Bookmark and Share


 
 



  Matahari Matahati (Bagian 4)

 
 


Kedai kopi itu terletak di lantai dua sebuah mal yang ramai dengan pengunjung. Lokasinya yang berada tepat di mulut game centre membuat tamu yang duduk di sana, dalam space counternya yang terbuka, seperti menjadi orang asing dalam kerumunan masa.

Ati membalas senyuman seorang pria yang duduk di seberangnya. Dia tidak mengenal pria itu sama sekali. Tapi, seperti pria-pria lain yang melihatnya dan memutuskan untuk dengan sopan mengangguk dan tersenyum, Ati akan menyambut ramah segala maksud baik.

Pria itu berpakaian rapi. Dasi berwarna terang dengan penjepit berkilau keperakan, yang serasi dengan warna kemejanya, terjalin indah di bawah dagunya yang bersih dan segar. Ati bisa menerka dalam sekali lihat, bahwa pakaian yang dikenakannya bukan hanya rapi, tapi juga mahal. Sementara dari caranya menyapa yang tenang dan sopan, pria itu menunjukkan kedudukan sosial yang bukan sembarangan.

“Sendiri?” pria itu mendekatinya dan bertanya. Posisinya setengah membungkuk tepat di hadapan Ati.
Sesopan mungkin Ati menggeleng, “Sebenarnya tidak. Saya menunggu suami. Itu dia!” katanya.

Bayu tiba. Hari ini dia mengenakan polo shirt berwarna navy dan denim berwarna senada. Mulutnya mengembangkan senyuman, meskipun Ati bisa menangkap rasa heran di matanya, karena menemukan seorang pria tak dikenal berdiri tak seberapa jauh darinya.

“Maaf. Saya harap, saya tidak mengganggu sedikit pun,” ujar pria tadi, sambil mengulurkan tangannya. “Agung.”

“Matahari,” Ati tak punya alasan berbohong mengenai namanya.

Pria itu tampak terkesiap. Tiba-tiba seperti ada ratusan bahan pembicaraan yang harus ia bahas bersama wanita cantik itu berkenaan dengan namanya. Tapi, Bayu sudah lebih dulu berdiri di antara mereka dan membuat pria itu merasa dia tak seharusnya berada di sana.

“Kalau begitu, lain kali saja,” ujar pria itu, penuh kesopanan.

Seolah tidak mau suami yang menunggu itu merasakan kecurigaan karena kehadirannya yang lebih awal, dijabatnya tangan Ati akrab. Semacam jabatan tangan kawan lama. Dia tidak tahu bahwa Bayu adalah masa lalu Ati, lebih dari siapa pun.

Pria itu mengundurkan diri, setelah sebelumnya tersenyum pada Bayu. Tapi, sebenarnya, matanya tak pernah lepas dari mengawasi wanita yang menyebut dirinya ‘matahari’ itu.

Ati tersenyum lembut pada Bayu, meski dia tak bisa mengingkari bahwa pesona pria itu lumayan menyita perhatiannya. Pria itu pasti curiga, mana ada suami-istri secanggung aku dan Bayu, dia berkata pada dirinya sendiri.

Bayu kelihatan bahagia. Warna mukanya bersinar-sinar, jika bahagia. Ati bisa membacanya tanpa harus diberi tahu.

“Aku excited banget ketemu kamu hari ini,” katanya, meletup-letup.

Ati mengerutkan keningnya, sambil tersenyum menerka-nerka. Memang sebaiknya ada hal yang menarik, mengingat bagaimana perjuangannya memenuhi undangan Bayu pagi ini.

Bundanya langsung berusaha memperlihatkan taringnya, begitu mendengar rencana Ati menemui pria bernama Bayu. Mendengar namanya diucapkan di dalam rumah itu saja, darahnya mendidih. Apalagi, nama itu merujuk pada orang yang sama. Orang yang mencerai-beraikan keluarganya. Pria rendah yang telah berkhianat.

“Lagi pula buat apa, sih, Ti?” bisik Bintang, abangnya. Bunda pernah mengancam tidak akan memaafkan seorang pun yang membawa pria itu, yang enggan ia sebutkan namanya, kembali ke dalam topik pembicaraan di dalam rumah.

Ati menggerakkan bahunya.

Bunda keluar dari dapur dengan sepiring penuh kue mangkuk berkilau kecokelatan, yang masih mengepulkan uap hangat. Ati dan Bintang segera menutup mulut mereka.

“Bunda tidak setuju kalau kamu kembali pada Bayu itu,” tembak Bunda ketus. “Pria seperti Bayu tidak akan mungkin berubah, Ti. Kamu hanya akan dijadikan pelampiasan,” katanya, emosional.

Ati tidak mau dikatakan sebagai objek pelampiasan. “Bunda ngomong apa, sih? Aku menemuinya karena dia cuma mengundang sebagai sahabat. Lagi pula, aku patut merasa berterima kasih karena dia mau mengantarkan sampai rumah tempo hari.”

“Omong kosong!” seru Bunda. “Dulu dia mengundang Sofie sebagai apa? Adikmu? Kamu mau jatuh dalam perangkap yang sama?”

“Bunda, tenang saja. Aku bukan wanita bodoh yang mau berbagi pria dengan adik perempuan sendiri. Lebih baik aku tak menikah.”

“Ati,” kata bapaknya, untuk memperingatkan ucapannya.

“Aku akan tetap menemui Bayu, karena aku tidak menemukan alasan untuk menolak maksud baiknya. Sekalian ingin mendengar mengenai Sofie,” Ati memutuskan. Setelah yakin tak seorang pun mendebatnya, dia mengundurkan diri dari ruang keluarga dan berjalan cepat menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.

Di ruangan itu Bintang menatap kedua orang tuanya secara bergantian sebelum bertanya seperti orang linglung, “Bunda tidak bilang pada Ati tentang Sofie?”

Bayu melongok ke arah gerai es krim yang terletak tepat di seberang pintu masuk kedai kopi itu. Tangannya terangkat tinggi dan ia membuat gerakan melambai. Ati mengikuti arah lambaiannya. Hanya ada seorang wanita berkulit kecokelatan yang menjinjing tas ransel berwarna pink dengan sablon boneka Barbie dan seorang gadis kecil yang berdiri kontras di sampingnya. Kenapa Bayu tidak datang bersama Sofie? Ati mencari-cari.

Gadis itu kecil, manis, dan berkulit putih bersih.

Ati sebenarnya tidak merasa kesulitan memprediksi siapa gadis kecil dalam gandengan wanita yang jelas bukan ibunya itu. Pasti putri Sofie dan Bayu. Gadis itu sangat mirip dengan adik angkatnya, terutama pada bagian bibir. Di situlah benang merah dari segalanya, batin Ati. Senyuman itu tidak dihasilkan dari wanita selain Sofie. Tipis, tulus, dan lembut.

“Ini putriku dan Sofie,” Bayu memeluk tubuh mungil itu dalam lengannya. “Cantik bukan, Ti?”

Wanita yang dipandang itu tersenyum, “Cantik sekali.” Sayang, anak itu tampaknya tidak menyukaiku, pikirnya. Gadis kecil itu terus memandang ke depan.

“Apa dia sedang marah?” Ati berbisik pada Bayu.

Selintas, dilihatnya gadis itu memiringkan kepalanya, seperti sedang menangkap sebuah suara.

“Tidak,” Bayu menggeleng. “Kamu tidak lagi marah kan, Sayang?” tanyanya pada gadis kecilnya.

Gadis itu menggeleng dan tersenyum geli, karena merasakan daun telinganya ditiup. Ketika refleks dirinya mencoba menghindar, Bayu makin mempererat pelukannya. Seketika Ati bernapas lega melihat reaksi alami si gadis kecil, begitu pertanyaan tersebut diajukan. Reaksi itu bukan bohong, Ati yakin. Tapi, keengganan si gadis untuk menatap dan bertanya-tanya seperti anak-anak lain jika bertemu orang asing, masih membuat Ati merasa bahwa ada yang tidak wajar berkenaan dengan sikapnya.

“Aik. Ayo, beri salam pada Tante Ati,” ayahnya memerintah.

Gadis itu tersenyum lebar, ia menjulurkan tangan dan menyebutkan namanya dengan lancar, “Matahari Sekar Ayu Putri.”

Tiba-tiba saja Ati mengerti. Sayang, pengertian itu justru menyekat tenggorokannya. Dia tak bisa mengatakan apa-apa.

Gadis kecil dalam pelukan Bayu itu masih tetap menjulurkan tangannya ke depan dan bukannya ke arah Ati. Setelah beberapa saat tak ada sambutan terhadap uluran tangannya, barulah dia mengerling ke samping.
Sambil setengah tertawa dia berkata, “Oh, Tante di situ, ya?”

Bayu tersenyum hangat. Dalam kehangatan senyumannya, dia mengangguk lembut pada Ati yang masih belum sepenuhnya percaya, seolah membenarkan pengertiannya.

Bersambung

Penulis: Ratih Tri Widowati

Cerita Terkait :

» Matahari Matahati (Bagian 1)

» Matahari Matahati (Bagian 2)

» Matahari Matahati (Bagian 3)

» Matahari Matahati (Bagian 5)

» Matahari Matahati (Bagian 6)

» Matahari Matahati (Bagian 7)

» Matahari Matahati (Bagian 8)

» Matahari Matahati (Bagian 9)

» Matahari Matahati (Bagian 10)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :