Bookmark and Share


 
 



  Lewat Secangkir Kopi (Bagian 2)

 
 


Karena pagi ini Shota berangkat lebih awal, aku bangun pagi–pagi sekali. Aku ingin membuatkan bekal untuknya, karena ia jarang sekali ingat bahwa ia butuh makan. Aku menyetel alarm ponselku, agar bisa bangun sebelum Shota bangun.

Jujur saja, aku suka Shota, secara umum. Ia orang yang tidak banyak bicara, tidak banyak mengeluh. Ia akan memakan segala makanan yang kubuat (jika aku membuatnya) atau ia akan mendengarkan apa pun yang ingin kuutarakan dan biasanya yang berhubungan dengan rumah kami ini. Karena kami sama–sama tinggal di satu rumah dengan tujuan yang sama, yaitu mendapatkan ketenangan, maka sebisa mungkin kami saling membantu.

Ia menghargai setiap makanan yang kubuatkan untuknya. Ia meminum kopi yang kubuat untuknya. Aneh bahwa ia tidak menyukai teh, sungguh aneh... apalagi ia berasal dari campuran dua negara yang punya tradisi sangat kental tentang teh. Aku belum pernah menanyakan hal itu padanya. Melihat bahwa ia tidak banyak bertanya padaku, maka aku pun tidak mau menginterogasi.

Ia juga sering sekali memakai kaus atau kemeja berlengan panjang, yang sangat tidak kumengerti. Ketika pergi bekerja, ketika duduk di kursi dekat jendela hanya untuk bersantai, ketika malam tiba, bahkan ketika cuaca di luar sangat panas, ia tidak pernah sekali pun menggunakan lengan pendek ataupun baju tanpa lengan. Aku penasaran ingin bertanya, namun lagi–lagi mengingat bahwa ia tidak banyak berkomentar tentangku, maka aku mengurungkan niat tersebut.

“Aku pergi dulu kalau begitu,” Shota berbicara pelan, namun matanya tertuju pada tas hitam dan map biru yang akan ia bawa.

Aku menunggunya menatapku, sebelum memberikan bekal tersebut padanya. Rasanya ia tidak menyadari kehadiranku sampai ia melihat bungkusan bekal berwarna biru tua yang kupegang. Matanya menatap bungkusan itu dan kemudian menatapku.  “Itu apa?” tanyanya, bingung.

“Bekal,” jawabku singkat.

“Untukku?” tanyanya lagi. Kali ini aku cuma mengangguk.

Ia yang tadinya sudah berada pada anak tangga pertama sebelum turun, akhirnya kembali lagi mendekatiku dan mengambil bekal tersebut dari tanganku. “Terima kasih,” ucapnya begitu cepat dan singkat.

Kemudian, suara langkah dari anak tangga menuju lantai pertama pun terdengar. Suara pintu yang tertutup juga terdengar beberapa detik kemudian. Aku mengintip dari jendela atas dan melihatnya keluar rumah menuju mobil SUV-nya. Desingan mobilnya terdengar dari atas dan perlahan menghilang dari tangkapan telingaku. Ia sudah pergi.

“Mbak Ayu! Mbak Ayuuu!” Edo datang setelah mobil Shota menghilang. Ia membuka helm dan nyengir seperti orang bodoh menyapaku. Edo sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, apalagi karena ia masih terlalu muda. Umurnya baru 20 tahun dan ia telah bekerja di kedaiku sejak setahun yang lalu. Ia mengetuk–ketuk pintu kaca kedaiku kencang sekali, seperti hampir mau pecah.

“Sabar, dong, Do! Lagian juga nggak dikunci, kok!”

Edo segera masuk sambil membawa satu tas berisi buku–buku besar.

“Kamu dan Shota, kok, hobi banget bawa banyak buku, sih, Do? Mau ngapain memangnya? Tidak berat?”

“Ini Mbak... Shota-san bilang, katanya kedainya mau ditambahin pakai perpustakaan,” ucap Edo kemudian.

Shota-san... Shota-san... entah kenapa Edo lebih suka memanggil Shota dengan akhiran –san dibanding awalan ’Kak’ atau apalah. Pernah sekali aku tanya, katanya karena wajahnya yang imut itu bikin Shota tidak cocok dipanggil Kakak.

“Dia, kok, tidak bilang aku, ya?”

“Memangnya Mbak Ayu nggak tahu, ya?”

“Nggak.”

“Duuuh... jadi nggak enak nih aku. Mungkin Shota-san mau buat kejutan untuk Mbak Ayu. Makanya, dia tidak ngomong apa–apa,” Edo buru–buru membenarkan penjelasannya dan meluruskan pikiranku yang mulai menceng.

“Mungkin...,“ tanpa pikir panjang aku cuma mengatakan ‘mungkin’ pada Edo. Memang mungkin saja. Mungkin saja ia tidak mau memberi tahuku... mungkin saja ia tidak perlu memberi tahuku, karena, toh, bangunan ini sudah dibeli dengan uangnya. Mungkin juga aku tidak perlu tahu. Banyak sekali kemungkinan dan aku kelewat memikirkan hal tersebut. Aku dan Shota, toh, cuma teman satu rumah. Jadi, kenapa aku harus merasa terganggu kalau dia juga mau melakukan sesuatu untuk rumahnya ini?

“Yuk, kita beres–beres!” kututup pikiran anehku dengan pekerjaan. Aku pun meninggalkan Edo di meja depan untuk pergi ke dapur dan menyiapkan kedai untuk dibuka.


Bersambung

Penulis : Dwi Retno Handayani
Pemenang II sayembara Mengarang - Cerber femina 2009

Cerita Terkait :

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 1)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 3)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 4)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 5)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 6)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 7)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 8)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 9)

» Lewat Secangkir Kopi (Bagian 10)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :