Seperti Closed Circuit Television (CCTV) alias kamera pengaman di kantor, ia beraksi. Ia merekam segala gerak-gerik rekan kerja dan bawahannya selama jam kerja. Dan, bila menemukan kesalahan atau sedikit kejanggalan saja, ia langsung melaporkan kepada bos. Sebenarnya, sampai batas mana seseorang boleh memata-matai rekan kerja dan bawahannya?
ETISKAH?
Informan atau mata-mata (dalam tanda kutip) di kantor adalah orang yang melihat-lihat, bahkan mencatat kesalahan orang lain, baik rekan sekerja maupun bawahan, untuk kemudian ia laporkan kepada atasan. Informan di kantor ini biasanya ada dua macam, yakni orang yang menjadi informan di kantor karena dimintai tolong oleh atasannya sendiri dan informan sukarela.
Apa pun alasannya menjadi informan, sesungguhnya cara itu tidak etis. Lebih parah lagi, kegiatan memata-matai itu bisa merusak suasana kerja yang kondusif. Bayangkan, bagaimana seseorang bisa bekerja dengan nyaman, kalau setiap saat ia dibayangi ada ‘mata’ lain yang akan dengan sigap melaporkan kesalahannya. Tak ubahnya seperti kegiatan mata-mata di masa peperangan, mata-mata di kantor ini juga bisa menimbulkan teror psikologis, yang akan menekan seseorang untuk berprestasi.
Kalau informan ini juga sebagai atasan, dan hobi melaporkan kesalahan dan ketidakdisiplinan bawahan kepada bos yang kedudukannya lebih tinggi, sementara sumbangan pemikiran, keahlian, dan bimbingannya terhadap bawahan dinilai minim, maka ia akan dianggap gagal sebagai pemimpin. Nilai gagal bukan hanya dari bawahan, tetapi juga dari atasan. Dari bawahan, ia dinilai tidak jujur dan dinilai hobi menjatuhkan bawahan. Sementara, dari atasan, meski tampak manggut-manggut mendengarkan laporannya, sangat mungkin ia memiliki penilaian bahwa informan yang juga menjadi atasan ini tak mampu mengatasi kebandelan bawahan. Dengan begitu, ia akan ragu memberikan promosi untuk kedudukan lebih tinggi pada informan ini.
Selain itu, walaupun kegiatan memata-matai ini mungkin (seolah-olah) mendekatkan informan ini pada bos, bukan berarti hasil memata-matainya itu diukur sebagai penilaian plus untuk pekerjaannya. Kalau bicara ukuran kinerja, menjadi informan sama sekali tidak masuk dalam hitungan prestasi kerja.