Hayo, jujur, tak sedikit dari kita yang menganggap bahwa tu berkulosis atau TB (biasanya disebut TBC) sebagai penyakit orang miskin, bukan? Asal tahu saja, anggapan itu keliru. Kuman TB tersebar di udara saat penderita TBC batuk, bersin, atau berbicara. Bila kuman ini terus-terusan ‘nyebrang’ dan masuk ke dalam tubuh, penyakit TBC akan tumbuh dan berkembang leluasa.
BERPACU DENGAN WAKTU
‘I am Stopping TB’, tema yang diusung Badan Kesehatan Dunia, WHO, dalam kampanye globalnya memperingati Hari TB (Tuberkulosis) Sedunia tahun ini. Penyakit ini sudah menjadi musuh manusia di seluruh dunia sebelum kuman penyebabnya, mycobacterium tuberculosis, ditemukan oleh dr. Robert Koch seabad silam. Yang memprihatinkan, Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam jumlah penderita TB terbesar di duniaa.
Banyak negara memerangi TBC sejak berpuluh tahun lalu, seiring ditemukannya obat anti-TB pada tahun 1940-1960. Namun, penyakit ini tetap merajalela. Bahkan, WHO mencatat, setiap tahun, 2 juta penduduk dunia meninggal akibat TBC. Data yang dikeluarkan The Global Tuberculosis Control Report (Maret 2007) menyebutkan, selama tahun 2005, 8.787.000 orang menderita TBC, dan 1,6 juta di meninggal dunia.
Di Indonesia, angka kejadian TBC pada 2005 mencapai 262 orang (per 100.000 penduduk), tahun 1998 berjumlah 130 orang, tahun 2002 sebanyak 256 orang, dan tahun 2005 naik lagi jadi 262 orang. Sementara, penderita TBC yang berobat ke RS Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta (http:www.infeksi.com), setidaknya mencapai 550.000 orang setiap tahun, dan 25% di meninggal dunia.
Pemerintah merespons dengan mengampanyekan Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB) sejak tahun 1999. Bentuk kegiatannya mulai dari penyuluhan, peningkatan jumlah dan mutu tenaga medis, menyuplai obat anti-TB di puskesmas-puskesmas, sampai membagikan gratis obat itu kepada para penderita TBC.
Namun, celakanya, usaha itu tampaknya masih kalah cepat dibanding dua faktor berikut ini:
1 MELUASNYA PENULARAN HIV/AIDS
TB erat kaitannya dengan HIV/AIDS. Karena, penyakit yang mengakibatkan kerusakan sistem daya tahan tubuh itu membuat kuman TB makin gampang merusak tubuh penderita. Jadi, kalau jumlah orang yang terinfeksi HIV meningkat, sudah pasti jumlah penderita TBC juga meningkat. Yang lebih mencemaskan, kuman TB yang ngumpet dalam tubuh penderita HIV/AIDS bisa cepat menggandakan diri, hingga perjalanan penyakit TBC jadi makin cepat dan mematikan. Lihat saja fakta dari Departemen Kesehatan RI ini: 11%-50% penderita HIV/AIDS meninggal dunia akibat penyakit TBC!
2 KUMAN TBC JENIS BARU MAKIN GANAS
Kuman TBC jenis baru, disebut extensively drug resistance (XDR), kebal terhadap obat anti-TB biasa (biasa disebut tahap ‘pemula’ atau ‘lini pertama’). Ia juga kebal terhadap obat ‘lini kedua’ yang lebih ampuh dan berharga cukup mahal. Obat lini kedua ini dibuat untuk mengatasi kuman TB jenis multiple drug resistance (MDR).
Penyebab keganasan ini adalah karena penderita TBC mengabaikan anjuran dokter agar mengonsumsi obat anti-TB sampai masa pengobatan selesai. Tuberkulosis jenis XDR masih menjadi salah satu penyakit yang ditakuti, karena belum ada obat yang bisa menjinakkan kuman tersebut. Penyakit TBC jenis XDR ini pertama kali dilaporkan muncul di Tugella Ferry, Kwazulu, Natal, Afrika Selatan, September 2006. Saat itu, 53 orang meninggal dunia dalam waktu 25 hari setelah didiagnosis positif XDR-TB. Tak lama berselang, penyakit ini bermunculan di negara-negara lain, seperti Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Latvia. Memang, hingga saat ini belum ada berita yang menyebutkan penyakit TBC jenis XDR ada di Indonesia. Namun, belakangan, penyakit ini sudah positif menjangkiti penduduk Asia.
SERIUS MENCEGAH SEBELUM TERLAMBAT
Bila daya tahan tubuh sedang rendah, kuman TB mudah masuk ke dalam tubuh. Kuman ini lantas terkumpul dalam paru-paru, berkembang biak, lalu menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Tapi, orang yang terinfeksi kuman TB, belum tentu menderita penyakit TBC, tergantung daya tahan tubuh. Bila daya tahan tubuh kuat, maka kuman TB akan terus tertidur di dalam tubuh (dormant) dan tidak berkembang menjadi penyakit. Bila daya tahan tubuh lemah, kuman TB akan berkembang menjadi penyakit TBC.
Tak perlu frustrasi jika kuman TB bukan jenis (XDR). Dengan pengobatan rutin, TBC bisa sembuh total. Studi yang diterapkan pada sejumlah penderita TBC di Indonesia tahun 2000 (http:www.who.int) membuktikan, dengan metode pengobatan directly observed treatment shortcourse chemotherapy (DOTS), tingkat kesembuhan penderita bisa mencapai 87%. Caranya, dokter memberikan sejumlah obat yang wajib diminum teratur selama 6 bulan. Selain itu, dengan menjalani DOTS, penderita TBC tak harus menjalani pengobatan rawat inap di rumah sakit atau sanatorium, cukup berobat jalan. Sayangnya, banyak penderita TBC yang tidak disiplin.
Mencegah lebih baik ketimbang mengobati. Anda pasti setuju dengan ungkapan tersebut. Lakukan langkah pencegahan bila Anda ingin mencegah kuman TB menginfeksi tubuh Anda beserta keluarga.
Pastikan rumah memiliki jendela dan pintu cukup lebar agar sinar matahari leluasa masuk, sehingga sinarnya dapat membunuh kuman TB yang mungkin bersembunyi di rumah.
Terapkan pola hidup sehat, konsumsi makanan bergizi, olahraga, tidak merokok, dan tidak minum alkohol.
Jika salah satu anggota keluarga Anda telanjur terinfeksi, pastikan ia tidak meludah di sembarang tempat, dan selalu menutup mulutnya saat batuk. Lebih baik lagi bila mengenakan masker mulut. Jemur tempat tidur si sakit di bawah sinar matahari secara berkala. Cegah agar anggota keluarga yang lain tidak menggunakan peralatan pribadi si sakit, seperti gelas, sendok, piring, sikat gigi, dan lain-lain.
Berikan imunisasi kepada bayi yang baru lahir, selambat-lambatnya sebelum berumur dua bulan. Vaksin TB –dikenal dengan nama BCG-- bisa memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit TBC. Meski begitu, efektivitas vaksin ini hanya berkisar antara 70%-80%, sehingga tidak bisa memberikan kekebalan sepenuhnya.