Garin Nugroho, Eksperimentalis Sinema Indonesia (Bagian 3)

 
  Sukses Setelah Menikah

Garin pernah gamang hidup di film. Meski berbagai penghargaan perfilman telah diraihnya, hidupnya tetap saja susah dan bertahun-tahun harus tinggal di rumah kontrakan sangat sederhana.

Tahun 1979, ketika Garin duduk di kelas 2 SMA, Soetjipto, ayah Garin, meninggal dunia. Tak lama setelah itu, ibu Garin pindah ke Bandung. Semua anaknya ikut pindah, kecuali Garin yang harus menyelesaikan sekolahnya dulu di Semarang.
Saat itu Henky sudah lebih dulu tinggal di Bandung karena kuliah di ITB. Garin yang waktu itu baru kelas 1 SMA, lumayan sering mengunjungi kakak sulungnya itu. Bahkan, ia sangat suka mengikuti berbagai diskusi yang diadakan di lingkungan kampus bergengsi itu.

Nyali Garin memang sangat besar. Meski hanya mengenakan celana pendek seperti anak SD, Garin yang bertubuh pendek dan kerempeng itu ikut berpartisipasi secara aktif. Saat diberi kesempatan berbicara, bocah ini tiba-tiba naik ke atas kursi lalu berbicara dengan lantang. Hampir semua peserta diskusi terperangah. Kok, ada bocah ‘segede gundu’ mampu berbicara dengan sangat runtun dan berbobot. Selain menguasai masalah, terasa sekali anak itu adalah seorang kutu buku.

Sejak SD hingga SMA, meski kepintarannya menonjol, ia memang selalu menjadi siswa termungil di sekolahnya. Kondisi ini kadang-kadang sangat mengganggu kejiwaannya sehingga ia pun mencari berbagai cara untuk mengatasinya. Di sinilah naluri eksperimentalisnya mulai terasah. Tak tanggung-tanggung, dirinya sendirilah yang ia jadikan objek percobaan.

Misalnya, saat duduk di kelas 3 SMA, ia membaca buku tentang riwayat pelompat galah dunia asal Rusia yang dahulunya juga bertubuh pendek. Agar bisa tinggi, setiap hari pemuda itu melompati tiang jemuran. Sejak itu, Garin setiap hari melompati tembok di belakang rumah kosnya di daerah Pasar Burung, Semarang. Usahanya tidak sia-sia. Tubuh Garin ternyata bisa menjadi lebih tinggi dan besar.

Penyakit korengan di kakinya juga acap kali mempermalukannya. Terhadap penyakit akibat alergi makan ikan-ikanan ini, Garin menghadapinya dengan perlawanan yang sangat berani. Suatu hari, ia sengaja membeli berbagai jenis ikan dan udang, memasaknya, dan memakannya semua sampai habis. “Pokoknya, saya harus melawan penyakit ini!” tekadnya. Ternyata betul. Meskipun penyakit ini diturunkan secara genetis dari ibunya, penyebab utamanya adalah faktor psikis. Buktinya, begitu ia bertekad melawan, penyakit itu sembuh justru setelah ia makan ikan dan udang sebanyak-banyaknya.

KERAS KEPALA & PEMBERANI
Banyak orang heran, kenapa Garin yang sudah diterima sebagai mahasiswa Universitas Gajah Mada (1980), tiba-tiba mengundurkan diri, dan malah banting setir masuk IKJ, yang saat itu kondisinya masih memprihatinkan. Jumlah mahasiswa jurusan sinematografinya hanya sekitar 15-20 orang. Setiap kali akan kuliah, Garin yang mengaku sebagai ‘orang kampung masuk kota’ selalu mengumpulkan teman-temannya dulu, barulah setelah itu melapor kepada dosen bahwa mereka sudah siap menerima kuliah.

Melihat kondisi perkuliahan seperti itu, Garin sempat menyangsikan masa depannya. Itu sebabnya, memasuki kuliah tahun kedua, ia kembali mengikuti Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), dan memilih Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Karena otaknya memang encer, lagi-lagi ia diterima.

Tapi, apa reaksi ibunya ketika kabar gembira itu ia sampaikan? “Ibu bukannya merasa bahagia, tapi justru marah-marah,” kenang Garin, terkekeh. “Itu sudah ketiga kalinya saya diterima di universitas negeri. Ibu malah jadi bingung, ‘Aku tidak ingin dengar kamu masuk sekolah mana lagi. Kowe ki arep dadi opo, to? (Kamu ini sesungguhnya mau jadi apa, sih?).’”

Garin akhirnya berhasil membuktikan kepada orang tuanya bahwa langkah yang ditempuhnya tidak keliru. Selain menyukai dunia film dan politik, Garin mengaku kuliahnya di IKJ itu ternyata sangat tepat timing-nya. Sebagai satu-satunya sekolah tinggi di bidang perfilman di Indonesia, IKJ banyak sekali mendapatkan tawaran beasiswa dari luar negeri.

Sebagai mahasiswa yang sangat rajin dan nilainya tinggi, Garin sering mendapatkan tawaran mengikuti pendidikan singkat atau workshop tentang film dan teve ke berbagai negara di Eropa, Amerika, dan Asia. Di Amerika, ia bahkan mendapat kesempatan mengunjungi berbagai studio kenamaan di Hollywood, seperti MGM, Universal, dan sebagainya.

Tahun 1985, Garin berhasil merampungkan kuliahnya di IKJ. Tujuh tahun kemudian ia juga lulus dari UI dengan nilai A. Seperti ayahnya yang pemberani dan keras kepala, Garin juga menyimpan sifat yang sama. Sikap ayahnya yang keukeuh tidak mau memberikan daftar anak buahnya yang diduga sebagai anggota/simpatisan PKI di tahun 1965, adalah contoh nyata betapa ayahnya sangat pemberani dan keras kepala, tapi sekaligus konsisten terhadap pilihannya.

Tahun 1990, ketika film layar lebar di Indonesia kondisinya ‘hidup segan mati tak mau’, Garin justru nekat membuat film berjudul Cinta Dalam Sepotong Roti. Saat membuat film tersebut ia menabrak semua aturan perfilman saat itu. Ia sama sekali tidak mau ambil pusing menyangkut sistem birokrasi yang ada. Padahal, saat itu cengkeraman pemerintahan Orde Baru masih sangat kuat dan sistem birokrasinya sangat menjerat. Tapi, ia nekat menjadi sutradara dengan menciptakan jalannya sendiri.

Ia langsung saja membuat film dengan mengabaikan perizinan dan tata cara memproduksi film. Saat itu, seseorang yang menjadi sutradara film, selain harus sudah pernah menjadi asisten sutradara serta berbagai persyaratan lain, juga harus sudah berusia minimal 35 tahun. Garin sendiri belum genap 30 tahun saat menyutradarai film pertamanya itu. Hasilnya, selain film itu berhasil menyabet berbagai penghargaan dalam FFI (Festival Film Indonesia), Garin juga terpilih sebagai Sutradara Muda Terbaik dalam Festival Film Asia Pasific di Korea Selatan. Dalam ajang FFI sebelumnya, lewat film dokumenter Tepuk Tangan, Garin juga berhasil meraih Piala Vidia.

Sejak itulah film-film Garin selalu menjadi pelanggan penghargaan di dalam maupun luar negeri. Film Surat Untuk Bidadari (1994) berhasil meraih penghargaan sebagai film terbaik di Taormina Film Festival Italia, Young Cinema Competitions Tokyo, Berliner Zeitung Award Forum des Jungens Film Berlin. Ia bahkan terpilih sebagai sutradara terbaik di Pyong Yang Film Festival. Di Indonesia, ia juga meraih penghargaan Republika Award, Horizon Award, dan Peran Pembantu Terbaik tahun 2000 dari Kine Club Film Festival.

Setahun kemudian, lewat filmnya, Bulan Tertusuk Ilalang, Garin lagi-lagi meraih penghargaan dari NETPAC dan FIPRESSCI Award Berlin Film Festival serta Hanoi Film Festival. Ia juga terpilih sebagai Sutradara Terbaik di Three Continents Festival di Nantes, Prancis.

Film keempatnya, Daun di Atas Bantal, tak kalah ramai dari penghargaan. Dari Kine Club Film Festival, ia berhasil menyabet penghargaan terbaik sekaligus untuk film, sutradara, editing, musik, kamera, skenario, dan artistik. Di luar negeri, film ini berhasil meraih penghargaan di Festival Film Taiwan (Film dan Aktor Terbaik), India (Aktor Terbaik), dan Belgia (Sutradara Terbaik). Di Tokyo Film Festival, ia meraih Jury Award.

Tahun 1999 ia membuat film Puisi Tak Terkuburkan. Hasilnya adalah tiga penghargaan dari Singapura (Jury Award dan Aktor Terbaik), India (Aktor Terbaik), dan Italia (Leopard Silver Award). Film terakhirnya, Rindu Kami Padamu, lagi-lagi berhasil menang di Festival Film India dan MTV.

 



DUA DUNIA
Sikap total Garin terhadap dunia pilihannya pada akhirnya mampu menampilkan dirinya sebagai pionir perfilman untuk generasinya. Prinsipnya, kalau pohon yang ditanam baik, maka harus mampu menghasilkan buah pilihan. Tapi, kalau hanya ingin mendapatkan rumput yang tak berguna, tanpa ditanam pun bisa tumbuh sendiri.

Garin adalah generasi IKJ pertama yang tidak hanya menjadi pelanggan pemenang FFI, tapi mampu menembus berbagai penghargaan internasional. Ia juga berhasil menjadi jembatan lahirnya generasi multimedia, karena ia mampu berkarya dalam berbagai wilayah multimedia, baik teknologi, ruang ekshibisi, jenis sasaran, hingga tema. Ia membuat film cerita, dokumenter, iklan, sinetron, film pendek, dan bahkan film layanan masyarakat bertema toleransi agama yang menampilkan sosok Abdurrahman Wahid, karya sosialisasi Kebun Raya untuk Presiden Megawati, dan ciri-ciri uang asli di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang hingga kini terus ditayangkan di berbagai stasiun TV.

Dalam berkarya, Garin mengaku bahwa dirinya bukan seorang idealis. “Saya hanya ingin mengerjakan sesuatu yang terbaik saja,” katanya, kalem. “Bagi saya, kalau ingin menjadi pemain bola, bermainlah secara profesional dan menjadi yang terbaik. Lakukan setiap hal dengan sepenuh tenaga, usaha, dan pikiran terbesar yang ada pada diri kita.”

Ayahnya juga selalu menekankan kepada anak-anaknya agar menjalani profesi –apa pun pilihan mereka— secara total. “Kalau kamu ingin menjadi seniman, jadilah seniman secara total. Bila perlu, kamu tidak usah kawin agar kreativitasmu bisa total,” kisah Henky, kakak Garin, menirukan pesan ayahnya.

Garin mengakui, seniman memang selalu menghadapi dilema dalam berumah tangga. “Istri saya kebetulan lulusan IKIP dan bukan seniman. Karenanya, saya selalu disadarkan bahwa di sekitar saya tetap ada dua dunia, yaitu dunia berkhayal dan dunia rumah tangga. Dunia saya adalah dunia soliter dan sosial sekaligus,” paparnya. Ia menyadari, tak semua kegelisahan kreatifnya bisa ia sampaikan kepada istri dan anak-anaknya.

Tapi, anehnya, Garin berhasil meraih berbagai penghargaan itu justru di saat ia sudah menikah. “Karier terbaik saya justru setelah saya menikah dan berumah tangga,” katanya. “Di dalam hidup ini, kita harus selalu menciptakan paradoks, kompetisi, dan lawan untuk diri kita sendiri. Saat memutuskan menikah, saya justru ingin mendapatkan pendamping yang terbaik untuk bisa mematahkan alter-ego saya. Saya orang yang keras hati. Kalau tidak mendapatkan pendamping hidup yang tepat, wah, bisa repot,” lanjutnya.

Bersambung

Serial Terkait :

» Garin Nugroho, Mengubah Wajah Film Indonesia (Bagian 1)

» Garin Nugroho, Eksperimentalis Sinema Indonesia (Bagian 2)

» Garin Nugroho, Eksperimentalis Sinema Indonesia (Bagian 4)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :