Bookmark and Share


 
 

  Garin Nugroho, Eksperimentalis Sinema Indonesia (Bagian 4)

 
  KOK, SEPERTI KURANG GIZI?
Sebagai seorang yang soliter, Garin menyadari betapa sulitnya menjalin hubungan dengan kaum hawa. Sejak SMA ia sudah berkali-kali berusaha menjalin hubungan dengan seorang gadis, tapi kandas terus. “Saya mulai pacaran beneran agak terlambat, tepatnya setelah kuliah semester 2,” kenangnya.

Padahal, sejak ia masih kelas 2 SMA, ayahnya yang berpikiran sangat modern itu sudah mendorongnya untuk punya pacar. Saat sang ayah tahu bahwa anaknya belum punya pacar juga, Garin pun diberi uang untuk membeli buku-buku cerita roman remaja. Eh, Garin malah membeli buku semi-porno berjudul Perawan Taiwan karya Motinggo Busye! Bukan itu saja. Oleh ayahnya, motor Garin pun ditempeli stiker yang berbunyi: ‘Yang cantik boleh bonceng!’

Garin sendiri tidak tahu, apa yang membuat para gadis meninggalkannya. Apakah karena sikap soliternya, ataukah karena sikap kesenimanannya. Entah kenapa, sebagai laki-laki, ia tak suka melihat wanita yang gemar berdandan menor. Wanita pakai lipstik pun ia tak suka.

Saat kuliah di IKJ, ia kembali tertarik pada seorang gadis, tetangga bude-nya di Slipi. Tak lama setelah berkenalan, ia pun langsung menemui kedua orang tua gadis itu, dan secara formal meminta izin untuk memacari sang gadis. Tentu saja orang tua si gadis terkaget-kaget, tapi mereka tidak menampik karena putri mereka tampaknya juga menyayangi pemuda ini.

Tapi, hubungan kedua sejoli itu tidak sampai ke pelaminan. Gadis itu akhirnya menyerah saat menghadapi berbagai keanehan pada diri kekasihnya. Antara lain, saat keduanya menonton film di gedung bioskop, Garin justru asyik dengan dunianya sendiri. Soalnya, ia seperti sedang menghadapi kuliah, dengan tekun mencatat adegan demi adegan sejak awal sampai akhir film. Gadis itu tentu saja sangat jengkel, sehingga akhirnya ia minta putus. Garin pun menerimanya dengan lapang dada. Saat itu juga ia menemui kedua orang tua si gadis dan mengatakan bahwa hubungannya dengan si gadis sudah berakhir....

Untunglah, pada akhirnya Garin berhasil menemukan pelabuhan hati yang bersedia menghadapi keanehan-keanehannya. Riani Ekaswati adalah sahabat sekaligus teman sebangku Ria Intani, adik Garin, di SMA Negeri 8 Bandung. Sebagai sahabat, putri keempat dari delapan bersaudara (sama dengan Garin) pasangan Ahmad Sadikin dan Fatimah ini sudah sangat akrab dengan keluarga Ria.

Tapi, dengan Garin ia belum pernah bertemu. Ia hanya mengenal nama serta gambaran orangnya dari Ria. Ia pertama kali bertemu dan diperkenalkan (oleh Ria) kepada Garin saat pemuda itu pulang ke Bandung bersama M. Hasriel (temannya di IKJ dan sekarang jadi fotografer femina) di awal tahun 1982. Tahu apa komentar Garin waktu itu? “Temanmu itu, kok, kurus banget, seperti anak kurang gizi,” celetuk Garin kepada adiknya, persis di depan Riani.

Ria tentu saja sangat kaget mendengar ucapan kakaknya, sehingga ia buru-buru meminta maaf kepada sahabatnya. Riani memang bukan cuma kaget, tapi juga sangat tersinggung. Tapi, ia lebih kaget lagi ketika dua minggu kemudian Garin datang sendirian ke rumahnya dan langsung ‘menembak’, “Kamu mau nggak, jadi pacarku?”

Riani jadi gelagapan dibuatnya. Selain tidak mudah tertarik pada pria, sejauh itu ia memang belum pernah berpacaran. Alhasil, ia hanya terduduk beku dan tak mampu berkata-kata. “Aku belum bisa jawab sekarang,” katanya, agak gemetar.

Garin pulang dan dua minggu kemudian mendatangi Riani lagi. Lagi-lagi Garin membuat jantung Riani berdegup keras, karena ia meminta jawaban saat itu juga. “Kalau kamu tidak mau menjawab sekarang, berarti kamu tidak mau pacaran dengan aku,” tegasnya.

Riani menjadi sangat bingung. Di satu sisi ia bingung pada sikap dan perilaku pemuda aneh itu. Namun, di sisi lain, ia menyimpan banyak kekaguman pada kakak sahabatnya itu. Dari cerita yang pernah diungkapkan Ria maupun dari hasil pengamatannya sendiri, tanpa disadari hatinya mulai tertarik pada lelaki yang duduk di depannya itu. Baru kali ini ia bertemu seorang pria pemberani yang kadang-kadang tampak nyeleneh. Dalam kebingungannya, tanpa sadar ia mengangguk dan mejawab lirih, “Ya....”

Garin tersenyum, wajahnya pun berubah sumringah. Sejenak kemudian Riani pun terheran-heran ketika Garin minta bertemu dengan orang tua dan kakak Riani. Uh, ia makin kaget ketika Garin tiba-tiba bilang pada orang tuanya, “Saya mohon izin untuk memacari Dik Riani.”

Uniknya lagi, hari itu juga Garin mengajak Riani ke rumah orang tuanya, seolah ingin memproklamirkan bahwa sejak saat itu ia mulai pacaran dengan gadis yang baru lulus SMA itu. Yang paling risau atas hubungan dua sejoli itu adalah Ria. Ia sangat khawatir kalau-kalau kakaknya hanya main-main, yang bisa berakibat fatal pada nasib persahabatan mereka.

Meski sudah pacaran resmi, Riani mengaku mereka jarang sekali saling bertemu. Paling-paling, dua minggu sekali. “Dan, setiap bertemu pun tidak seperti umumnya orang pacaran,” kenang ibu empat anak ini. “Kalau pergi berduaan, sambil menunggu bus, ia seolah asyik dengan dunianya sendiri. Ia tidak mengajak saya ngobrol, tapi malah membaca buku. Begitu juga kalau berkunjung ke rumah. Ia selalu membawa tas besar yang isinya buku-buku, lalu asyik sendiri dengan bacaannya itu. Kalau nonton film berduaan, dia juga asyik dengan catatan-catatannya. Aneh, pacaran, kok, seperti ini. Untung sebelumnya aku belum pernah pacaran, sehingga tidak pernah tahu bagaimana seharusnya orang berpacaran,” lanjutnya.

Garin sendiri heran kenapa dia sering bertindak bodoh saat masih pacaran dengan Riani. Garin mengaku hubungannya dengan Riani nyaris berantakan ketika suatu hari ia menelepon Riani lewat telepon umum. Karena koinnya sangat terbatas, dengan sedikit kesal Garin agak membentak sang penerima telepon. “Jangan main-main ya, uang saya tinggal lima puluh perak. Tolong cepat panggilkan Riani!” Garin tidak tahu bahwa penerima telepon itu ternyata... ayah Riani!

HIDUP PRIHATIN
Setamat dari IKJ (1985), Garin nekat melamar Riani. Meski selama ini ia doyan berkhayal, itulah untuk pertama kali ia harus menghadapi kehidupan berumah tangga yang benar-benar nyata. Mereka harus mengawalinya dengan susah payah.

“Kami tinggal di rumah petak kontrakan kelas tukang bakso di daerah Pasar Burung Pramuka. Setiap bangun tidur dan membuka pintu rumah, di teras sudah ada orang-orang yang sedang mabuk. Sampai tahun 1995, ketika saya sudah mendapat tujuh piala penghargaan film terbaik, keadaan ekonomi keluarga kami masih sangat memprihatinkan,” kenang Garin.

Beruntung istrinya tergolong wanita yang tahan uji. Saat itu Garin bekerja di Gemini Film dengan gaji Rp75.000, yang harus dipotong Rp50.000 untuk mengontrak rumah secara bulanan. Dengan sisa uang Rp25.000, Riani berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin, antara lain untuk makan, kuliah berdua, biaya transportasi, dan sebagainya. Tak jarang, untuk makan sehari-hari Riani terpaksa berutang ke warung-warung. “Saya pernah pergi hanya dengan membawa uang Rp200 saja,” kenang Riani, pahit.

Meski kedua orang tuanya tergolong cukup, Riani tidak pernah mengeluh sedikit pun kepada mereka. “Sesusah apa pun hidup saya saat itu, saya ingin kedua orang tua saya tidak tahu. Saya pernah marah sekali ketika suatu hari ibu saya datang mengendarai mobil sambil membawa beras yang bagus. Saya bilang kepada Ibu, ‘Kalau suami saya hanya mampu memberi saya beras yang pera, itulah yang harus saya makan.”

Beratnya kehidupan yang harus ditanggung, membuat Garin pernah hampir menyerah. “Saya sempat berniat mundur dari dunia film,” akunya. “Hidup dari film sangat susah, sementara film dokumenter duitnya kecil dan paling banyak setahun hanya dapat dua-tiga proyek. Mana cukup menghidupi keluarga? Saya lalu berniat untuk mengkhususkan diri membuat iklan. Yang penting dapat duit banyak dan cepat.”

Untunglah, kegelisahan dan kegamangannya itu terdengar oleh seorang diplomat (dan programer) Jerman. Garin pun mendapat tawaran beasiswa dari Kedutaan Jerman. “Kamu coba lihat film-film dari Finlandia. Saya yakin kamu bisa membuat yang seperti itu,” kata sang diplomat, memberi semangat.

Ternyata, kepulangannya dari Jerman kali ini membawa hikmah yang luar biasa pada pola pikirnya. Garin akhirnya mengurungkan niatnya untuk mundur dari film. Alasannya, banyak hal yang bisa menolong hidupnya. Semua dibentuk oleh sejarah yang dia sendiri tidak bisa mengaturnya. “Sekarang saya bisa bilang, setiap kegagalan atau jalan buntu adalah pemicu untuk mencari jalan baru,” simpulnya. Perlahan, kehidupan ekonominya pun mulai membaik sejak ia membuat film Daun di Atas Bantal. Kini ia bahkan sudah memiliki dua rumah.

Bagi Garin, masalah yang paling sulit pada awal perkawinan adalah menghadapi dirinya sendiri yang soliter dan terkadang egoistis. “Namun, seiring berjalannya waktu, alter-ego itu pula yang mampu menyadarkan saya bahwa masih ada orang-orang di sekitar saya. Bagaimanapun, mereka semua ikut membantu proses mencipta saya. Akhirnya, saya menemukan dunia yang paling luar biasa justru dalam berkeluarga,” tambah ayah empat anak: Kamila Andinisari (19), Gibran Tragari (17), Adinda Fudia (11), dan Anala Ahimsa (2,5), ini.

Sementara itu, harapan Riani sederhana saja, yaitu agar kesucian perkawinan mereka tidak ternodai oleh berbagai godaan iman. “Sesuatu yang sudah kami capai hari ini, semuanya diraih dengan susah payah. Karena itu, janganlah dikotori oleh hal-hal yang sepele, misalnya perselingkuhan atau skandal-skandal yang lain,” harap Riani.

Tamat

Serial Terkait :

» Garin Nugroho, Mengubah Wajah Film Indonesia (Bagian 1)

» Garin Nugroho, Eksperimentalis Sinema Indonesia (Bagian 2)

» Garin Nugroho, Eksperimentalis Sinema Indonesia (Bagian 3)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :