Bookmark and Share


 
 

  J.K. Rowling (Bagian 2)

 
 


Hal terburuk yang ia alami ketika remaja adalah saat melihat ibunya sakit parah. Sang ibu didiagnosis mengidap penyakit multiple sclerosis, suatu penyakit yang mengganggu sistem saraf pusat. Saat itu kebanyakan orang yang mengidap penyakit serupa bisa berangsur-angsur membaik, meski tidak sembuh secara total.

Begitu juga yang diharapkan oleh Jo. Sayangnya, tidak demikian dengan ibunda Jo. Makin lama kondisi kesehatannya makin buruk. “Aku sempat yakin bahwa seorang ibu adalah makhluk sangat kuat, yang tidak bisa dihancurkan oleh penyakit apa pun. Sungguh mengejutkan ketika aku tahu ia mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan,” katanya, sedih.

Menyelesaikan sekolah menengah tahun 1983, Jo lalu melanjutkan kuliah di University of Exeter, di pesisir selatan Inggris. Atas permintaan orang tuanya, ia mendalami bahasa Prancis. Rupanya, orang tuanya berharap, dengan bekal dua bahasa modern itu, Jo akan memiliki karier cemerlang.

Sesungguhnya, Jo tidak terlalu menyukai bahasa Prancis. Tapi, ia tidak menyesal mengambil jurusan itu. “Salah satu sisi positifnya adalah aku bisa tinggal di Paris selama setahun, sebagai bagian dari program kuliah,” katanya, senang.

Kala itu, di waktu luangnya, Jo rajin mengumpulkan sejumlah kata dalam bahasa Inggris kuno yang aneh. Atau, ia mengumpulkan nama-nama tak biasa yang diambilnya dari peta dan kota di Inggris. Ketika itu Jo tak pernah tahu gunanya, ia hanya senang saja melakukannya. Tapi, beberapa tahun berselang, nama-nama aneh koleksinya itu berguna saat ia mulai menulis Harry Potter.

HARRY MUNCUL MENDADAK
Setelah lulus kuliah empat tahun kemudian, ia bekerja di London, di Amnesty International, sebuah organisasi yang berkampanye melawan penyalahgunaan hak-hak asasi manusia di seluruh dunia. Di tempat itu ia bekerja sebagai sekretaris.
Jo mengaku, dirinya adalah sekretaris terburuk di dunia. Ia tidak pernah menyimak isi rapat karena terlalu asyik berkhayal atau terlalu sibuk memilih nama karakter baru untuk ceritanya. Saat makan siang di pub atau kafe, ia terus memanfaatkan waktunya untuk menulis. “Satu hal menyenangkan jika bekerja di balik komputer adalah bisa menulis cerita kapan saja, tanpa seorang pun memerhatikannya,” katanya.

Sekitar pertengahan tahun 1990, Jo dan kekasihnya memutuskan untuk pindah ke Manchester dan tinggal bersama. Namun, sebelum pindah, Jo sempat sibuk berburu apartemen pada setiap akhir pekan. Suatu saat, ketika kembali ke London, di dalam kereta yang sarat penumpang, ide tentang Harry Potter tiba-tiba muncul.

Saat menunggu kereta yang terlambat selama 4 jam, berbagai ide bermunculan begitu saja di benaknya, lengkap dengan detailnya. Yang terbayang di kepalanya adalah seorang anak laki-laki berkacamata, berambut hitam acak-acakan, yang tidak tahu bahwa ia adalah penyihir.

Minat menulis Jo memang sudah tampak sejak belia. Tapi, baru kali ini ia sangat bersemangat mewujudkan ide penulisan tentang Harry Potter itu. Jo sendiri tak tahu bagaimana ide itu bisa muncul. Ia ingin memperlambat laju munculnya ide supaya ia sempat menuangkannya terlebih dulu di kertas.

Sayang, pena yang ia miliki saat itu tidak berfungsi dengan baik. Tintanya habis. “Aku terlalu malu untuk meminjamnya dari orang lain. Tapi, begitu tiba di rumah dan sudah menggenggam pulpen, detail tentang ide tersebut satu demi satu mulai lenyap,” katanya. Tak mau menunggu semua ide itu hilang, malam itu juga ia mulai menulis episode Harry Potter yang pertama, Philosopher’s Stone.

Ketika akhirnya ia pindah ke Manchester pun, berkas naskah itu ia bawa-bawa. Ia mengatakan, di naskah awal itu bahkan sudah terdapat ide cerita tentang sisa karier Harry di Hogwarts, bukan hanya cerita tentang tahun pertama sekolahnya saja. Lalu, pada 30 Desember 1990, terjadi sesuatu yang mengubah hidup Jo. Ibundanya tercinta meninggal dunia.

Saat itu adalah masa-masa kelabu bagi Jo, Di, dan ayahnya. Mereka sangat terpukul atas kepergian Anne, yang telah berjuang sepuluh tahun dengan penyakitnya, sebelum akhirnya menyerah. Ibunya pergi saat berusia 45 tahun. Mereka tidak pernah membayangkan ia akan meninggal dalam usia begitu muda. Saat itu Jo hanya ingat, ia merasakan sesuatu menusuk dadanya, membuat hatinya sangat sakit.

Namun, hidup harus terus berlanjut. Setahun kemudian, Jo telah menyelesaikan 10 bab pertama dari Philosopher’s Stone. Ia tak bosan-bosan mengumpulkan, dan sekarang bahkan menciptakan, nama-nama unik untuk karakter dan makhluk karangannya.

Menginjak usia 26 tahun, Jo ingin melarikan diri sesaat dari kehidupan rutinnya dan pergi ke Porto, Potugal. Di sana ia mendapatkan pekerjaan mengajar bahasa Inggris di sebuah lembaga bahasa. Saat itu Jo tak lupa membawa tumpukan berkas naskahnya. Ia berharap, dengan jam kerjanya yang baru, entah sore atau malam, Jo bisa melanjutkan novelnya. Sedikit banyak, kepergian sang ibu ikut berperan dalam isi novelnya. Kini, perasaan Harry tentang orang tuanya yang sudah meninggal menjadi lebih dalam, seolah lebih nyata.

Harapan Jo agar sekembalinya dari Portugal sudah bisa menyelesaikan sebuah buku, ternyata gagal menjadi kenyataan. Persoalannya, ia bertemu seorang wartawan televisi bernama Jorge Arantes.

Jo pun terpikat pada ketampanan pria itu. Keduanya menikah pada tanggal 16 Oktober 1992. Tepat sembilan bulan kemudian, 27 Juli 1993, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik. Bayi itu dinamai Jessica, diambil dari nama seorang penulis dan aktivis idola Jo, yaitu Jessica Mitford.

Sayangnya, perkawinan mereka tidak berjalan mulus, dan akhir-nya keduanya memutuskan untuk mengakhirinya. Kendati demikian, Jo tidak pernah menyesali perkawinan itu. Toh, sebagai gantinya, ia mendapatkan hadiah terindah dalam hidupnya, yaitu Jessica.

HIDUP DARI SANTUNAN PEMERINTAH
Setelah perceraian itu, menjelang Natal tahun 1994, Jo membawa Jessica ke Edinburgh, Skotlandia, kota tempat tinggal Di. Namun, Jo tidak ingin mengganggu kehidupan adiknya dengan tinggal bersama mereka. Ia akhirnya menyewa sebuah apartemen kecil, dan hidup berdua dengan Jessica di sana. Saat itu Jo benar-benar tak punya uang. Ia sadar, sebagai orang tua tunggal, ia memiliki tanggung jawab besar untuk membesarkan anaknya. Karena kepindahannya ke Edinburgh cukup mendadak, ia belum sempat mencari pekerjaan.

“Ketika itu, aku benar-benar memerlukan pekerjaan. Tapi, karena aku masih harus mengasuh Jessica, aku juga belum bisa bekerja full time. Benar-benar sebuah dilema, sementara aku harus membiayai diri sendiri dan bayiku,” kenangnya.

Ia terjebak dalam situasi klasik seorang single mom. Sangat miskin, tak punya pekerjaan, tinggal di apartemen satu kamar, tak dapat membiayai hidup anaknya, dan tak mampu membayar pengasuh.

Sedemikian miskinnya, Jo akhirnya mendapat bantuan dana dari pemerintah. Setiap minggunya ia mendapatkan santunan uang sebesar 105 dolar. Dengan dana itu, Jo melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang tua tunggal lainnya, yaitu berhemat habis-habisan. Kerap kali ia memilih tidak makan tiga kali sehari, cukup dua kali saja, demi anaknya.

Terdesak karena tidak punya uang sama sekali, Jo makin bertekad melahirkan novelnya yang pertama. Karena tidak mampu membayar baby sitter, ia memanfaatkan waktu untuk menulis ketika Jessica tidur. Setiap hari ia membawa Jessica, yang duduk di kursi dorong, berjalan-jalan menelusuri Edinburgh, dan menunggu sampai bayi cantik itu tertidur.

Begitu Jessica memejamkan mata, Jo langsung masuk ke kafe terdekat untuk menulis, sambil meneguk secangkir espresso. Dulu, Jo selalu menulis naskahnya secara manual dengan kertas dan pulpen. Tanpa penghasilan, ia tak mampu membeli komputer.

Mungkin, setiap kafe di penjuru Edinburgh sudah pernah ia kunjungi. Namun, ia tampak paling sering terlihat di Nicolson’s Café di Nicolsons Street (sekarang merupakan restoran Cina), milik kakak iparnya. Hampir setiap malam ia mencuri waktu untuk menulis.
|
Banyak yang mengatakan, ia menulis di kafe untuk menghindari apartemennya yang dingin, yang tidak dipasangi pemanas, karena ia memang tidak mampu membelinya. Tapi, dalam wawancara dengan BBC, Jo menyangkal, “Aku tidak sebodoh itu. Mana mungkin aku menyewa apartemen di Edinburg tanpa pemanas, apalagi saat musim dingin. Tentu saja ada pemanas di dalam apartemenku.”

Yang benar, Jo ketika itu sangat ingin kembali mengajar. Ia sangat suka mengajar. Tapi, ia sadar, jika tidak menyelesaikannya saat itu, ia mungkin tidak akan pernah bisa menerbitkan bukunya. Ia tahu, jika ia mengajar seharian penuh, ditambah lagi dengan merencanakan bahan untuk mengajar dan memeriksa hasil ulangan, serta mengurus Jessica, dia tak akan punya waktu luang untuk menulis.

Akhirnya, ia pun menyingkirkan keinginannya untuk mengajar dan terus berusaha menyelesaikan bukunya, kemudian mencoba menerbitkannya. Malamnya, ketika kembali ke rumah, Jo mengetik ulang naskah itu agar tampak rapi. “Kadang-kadang, jika mengingat masa-masa sulit itu, aku membenci buku itu. Tapi, di sisi lain, aku mencintainya,” katanya.


Bersambung

Serial Terkait :

» J.K. Rowling (Bagian 1)

» J.K. Rowling (Bagian 3)

» J.K. Rowling (Bagian 4)

» J.K. Rowling (Bagian 5)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :