Bookmark and Share


 
 

  Garin Nugroho, Eksperimentalis Sinema Indonesia (Bagian 2)

 
 


Garin mengakui, semasa kecil ia memang banyak melamun. “Saya jadi soliter karena terlalu banyak berimajinasi, banyak berkhayal,” katanya, beralasan. Namun, ingatan-ingatannya tentang berbagai peristiwa di masa kanan-kanaknya itu, terutama hal-hal yang ia sukai, melekat sangat kuat dalam benaknya. Masih terbayang dengan jelas bagaimana model baju, model celana, model radio transistor, serta berbagai kelucuan dan tabiat remaja di zaman itu. Pengamatan visual seperti itu tidak pernah dia lupakan. “Semua itulah yang sangat membantu penciptaan kreativitas saya sekarang ini,“ tuturnya, kalem.

MANIAK NONTON SEJAK SD
Selain soliter, Garin kecil ternyata masih mempunyai kebiasaan buruk lain. Kalau permintaannya tidak dikabulkan, maka dia akan langsung duduk di balik pintu, lalu menangis tanpa putus selama berjam-jam. Menurut Henky, Garin betah bertahan menangis dari pagi sampai sore. Menangisnya pun unik, karena yang keluar hanya suara tangis, tapi minus air mata. Kalau ayahnya jengkel, Garin pun dimasukkan ke kotak beras yang cukup besar, sehingga perjaka yang bertubuh kecil dan pendek itu tidak bisa keluar. “Ia baru bisa kami keluarkan kalau Ayah sudah tidur siang,” kenang Henky, tertawa lebar.

Minat Garin pada dunia film sudah terbentuk sejak usianya enam tahun, dan sejak SMP mulai menggemari drama. Setiap kali ada pertunjukan drama di Yogya yang disutradari oleh W.S. Rendra, Arifin C. Noer, atau yang lain, maka Garin —yang saat itu bersekolah di SMP St Yosef Semarang— pasti ngebela-belain pulang ke Yogya untuk menonton.

Sejak duduk di kelas 1 SD, ia sudah keranjingan nonton film. Rumah orang tuanya di Jalan Jayengan, Pakualaman, kebetulan dekat dengan Gedung Bioskop Permata Yogya. Ia selalu menonton setiap kali bioskop itu mengganti film. Seperti Garin, ketiga kakaknya (Henky, Hendra, Himawan), juga maniak nonton film. Pernah, sekali, Henky tak mengajak Garin. Ia pergi ke bioskop hanya dengan Hendra dan Himawan. Setelah berhasil masuk, eh, ternyata Garin sudah ada di dalam bioskop, duduk di pojok ruangan,” ujar Henky, sembari tertawa lepas.

Karena uang saku tak cukup dan masih di bawah umur, mereka berempat pun melakukan berbagai cara agar bisa nonton gratis. Misalnya, dengan menyogok petugas bioskop, atau berjalan merendengi om-om dan tante-tante yang sedang memasuki ruangan bioskop, supaya disangka anak mereka. Akibatnya, seorang penjaga sempat curiga, lalu nyeletuk, “Kok, tiap hari bapak kamu ganti-ganti terus?”

Semua ulah kakak-beradik itu tentu saja tanpa sepengetahuan ayah mereka. Tapi, menurut Garin, kalaulah bapaknya marah, pastilah ia akan berkaca pada diri sendiri. “Bapak itu, kalau sudah kepingin nonton film, istrinya yang sedang hamil pun ditinggal nonton. Ketika Ibu akan melahirkan, anak-anaknya diminta menyusul Bapak ke gedung bioskop. Kepada petugas bioskop kami minta pesan kami diumumkan kepada penonton bioskop, ‘Bapak Soetjipto Amin, dimohon segera pulang, istrinya masuk rumah sakit karena mau melahirkan!’ Ha…ha…ha….”

Darah seni Soetjipto memang mengalir deras kepada anak-anaknya. Henky, si anak sulung, yang drop out dari Jurusan Seni Rupa ITB (dikeluarkan karena aktif demonstrasi), kini juga aktif menjadi sineas, dan memimpin Mataair, rumah produksi yang banyak memproduksi film-film lingkungan hidup dan dokumenter. Almarhum Hendrawan, adik Henky, seorang perupa keramik, juga dari ITB. Garin sendiri lebih suka meneruskan hobi masa kecilnya, yaitu melanjutkan studi di Fakultas Film & Televisi IKJ.

PELUPA , TAPI PINTAR
Tahun 1973, Garin sekeluarga pindah ke Semarang, karena ibunya pindah tugas ke kota itu. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan. Di kota itu pula, Garin melanjutkan sekolahnya ke SMP Katolik St. Yoris. Anehnya, sejak itu ia mulai banyak membuka diri sehingga sifat soliternya berkurang. Ia aktif di pramuka, mendaki gunung, main drama, bahkan melawak. “Jadi, kalau sekarang saya bisa membuat film-film iklan yang lucu, itu karena saya dulu pernah ngelawak,” jelas Garin, tersenyum.

Sepintas, sosok seorang Garin Nugroho memang aneh. Di satu sisi, dia seorang yang soliter dan pelupa, tapi di sini lain, ia berhasil mencapai prestasi puncak di sekolahnya. Sejak SD ia selalu meraih nilai tertinggi, setidaknya tiga besar di kelasnya.
Kendati begitu, Garin mengakui tidak semua masalah pada dirinya berhasil ia kelola dengan baik. Egonya acap kali mengambil alih manakala kepentingannya terusik. Misalnya, saat ia duduk di kelas 2 SD, tiba-tiba saja ia merasa tidak senang melihat cewek yang diam-diam disukainya maju ke depan kelas bersama anak lelaki lain. Ia langsung mengambil penghapus papan tulis dan melemparkannya ke gadis kecil itu, tepat mengenai dahinya. Gadis itu menangis, dan Garin pun dimarahi habis-habisan oleh gurunya. “Saya tidak mengerti bagaimana jalan pikiran saya saat itu. Pokoknya, saya jengkel pada cewek itu, dan dia pantas mendapat hukuman!” ujar Garin.

Di rumah, Garin juga sangat posesif terhadap ibunya. Ia sering melempari tamu-tamu ibunya, baik tamu wanita atau pria. “Karena itu, kalau Ibu ada tamu, saya langsung diikat oleh kakak-kakak saya di belakang, atau diajak pergi jauh-jauh!” kata Garin, terkekeh.

DRAMA PERTAMA
Tahun 1977 Garin lulus SMP dan langsung masuk ke SMA Loyola, salah satu sekolah terbaik di Semarang. Aturan di SMA Loyola cukup ketat, tapi Garin sangat menikmati. Justru pada saat inilah Garin seakan menemukan dunianya, eksistensinya, meski diakuinya agak terlambat. “Saya paling nakal ketika di SD, tapi anak manis ketika di SMA,” katanya.

Hasilnya memang sangat memuaskan. Selain nilai-nilainya selalu di urutan atas, bakat seni Garin pun makin berkembang. Berbagai kegiatan intra dan ekstrakurikuler dia ikuti secara aktif. Antara lain, pramuka, pencinta alam, olahraga (basket dan bulu tangkis), majalah dinding, dan drama.

Sejak duduk di SMA pula ia mulai menulis cerpen dan melukis. Salah satu lukisan kartunnya bahkan ada yang dimuat di majalah Astaga, majalah humor yang cukup berbobot di tahun ‘70-‘80-an.

Dalam kegiatan drama di sekolah, Garin makin banyak berperan. Kalau semasa SMP ia hanya tampil sebagai pemain drama atau lawak, saat di SMA ia sudah mampu menulis naskah, bahkan kemudian berhasil menyutradarainya. Semua itu tidak lepas dari peran Pater Collman, gurunya yang juga seorang pastor.

Pastor itu sangat takjub saat membaca naskah drama pertama yang ditulis oleh Garin, berjudul Komputer. Pikiran Garin dinilai menjangkau sangat jauh ke depan. Tahun 1978 pemikiran orang tentang komputer belum seperti saat ini, di mana hampir semua bidang pekerjaan menggunakan jasa komputer. Wajar kalau pastor itu kemudian sangat mendorong Garin untuk bisa mementaskannya di sekolah.

Naskah ini bercerita tentang masyarakat yang tidak percaya kepada presidennya karena sang presiden sering kali menipu rakyatnya dan hanya percaya pada komputer. Tapi, karena komputer itu tidak mampu menyelesaikan urusan antarmanusia, maka negara pun jadi kacau-balau. Garin sendiri jadi bingung ketika diminta sang pastor untuk mementaskannya. “Saat itu saya belum tahu apa dan bagaimana teater itu,” katanya. Mau tidak mau ia pun harus membaca dan belajar dari buku-buku tentang teater.

Hasilnya memang tidak mengecewakan. Selanjutnya ia bahkan diminta mementaskan karya-karyanya yang lain. Garin kemudian mementaskan drama kedua dan ketiga yang lebih besar, yaitu Sang Sungai Lokapala dan Dewi Gendari, yang masing-masing didukung oleh 15 orang dan 50 orang pemain.

Bersambung



Serial Terkait :

» Garin Nugroho, Mengubah Wajah Film Indonesia (Bagian 1)

» Garin Nugroho, Eksperimentalis Sinema Indonesia (Bagian 3)

» Garin Nugroho, Eksperimentalis Sinema Indonesia (Bagian 4)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :