|
Lilis Setiadi - Sosok Feminin di Jalur Investasi
Meski terbilang muda, ia berperan besar dalam menentukan masa depan dunia investasi di Indonesia.
Ingin kaya dan hidup enak di hari tua? Tanyakan caranya pada Lilis Setiadi (33). "Punya tabungan dan deposito, tak cukup. Anda harus coba berinvestasi," hampir dipastikan ia menyarankan demikian, jika Anda bertemu dirinya.
Sebagai Director Head of Sales PT Schroder Investment Management, perusahaan pengelola dana investasi peringkat satu di Indonesia, ia memang pakar dalam pengelolaan harta dan seluk-beluk investasi. 12 tahun menyelami dunia keuangan dan perbankan, ia masuk dalam jajaran petinggi PT Schroder, bermarkas besar di Inggris dan telah berumur 202 tahun. Di Indonesia, perusahaan ini membuka cabang pada 1991. Walau terhitung baru, perusahaan ini menguasai 1/3 dari total 33 triliun rupiah dana investasi yang beredar.
DIJULUKI ENERGIZER
Saat lulus kuliah dari Oklahoma State University, Amerika Serikat, jurusan marketing dan bisnis internasional, Lilis bekerja di bidang retail banking pada sebuah bank swasta nasional. 2 tahun kemudian, ia pindah ke bidang manajemen investasi di bank yang sama. Gonjang-ganjing krisis moneter, membuatnya harus meninggalkan keasyikan mengelola investasi. Ia pindah lagi ke perbankan.
Di balik sisi femininnya, Lilis sosok pekerja keras. Sampai-sampai, ia dijuluki energizer, seperti halnya kelinci di iklan itu, energinya bagai tak ada habisnya. Jika umumnya orang tidur 8 jam sehari, ia cukup 4 jam saja. Pagi-pagi, pukul 6, ia sudah berolahraga di gym, dan pukul 8.30 sudah di kantor. Ia paling cepat pulang sekitar pukul tujuh malam. Libur akhir pekan tak jarang dikorbankan untuk acara investor gathering.
Nah, apakah seorang konsultan finansial lantas jadi berhati-hati untuk menghamburkan uang demi kesenangan? "Ha...ha... seperti kebanyakan wanita, saya kadang impulsif soal belanja, terutama baju. Yang penting saya sisihkan untuk tabungan dan investasi. Sisanya, 'halal' kan untuk bersenang-senang," ujar Lilis, tertawa.
OPTIMIS DUNIA IVESTASI BAKAL BOOMING
Target Lilis, perlu jangka paling tidak 5 tahun ke depan untuk membuat orang 'melek' berinvestasi. Gerakan hidup hemat dan menabung harus lebih disosialisasikan. Masih ada pemahaman salah dalam menghitung anggaran. "Misalnya, bulan depan baru mendapat bonus, tapi pengeluaran sudah dilakukan bulan ini. Ini salah kaprah," tegasnya.
Lilis menyayangkan tingkat kesadaran berinvestasi di Indonesia yang terbilang rendah dibandingkan negara-negara tetangga, seperti Singapura, Hong Kong, dan Malaysia. "Investasi merupakan kebutuhan, jika seseorang ingin mempersiapkan masa depannya dengan lebih baik. Sayangnya, belum banyak orang Indonesia menyadarinya," ujar Lilis. |